Ar Raudhah Sumenep

GEN Z ‘SANTRI’ MENYOAL Benarkah Mencari Barokah Harus Sepenuhnya Senyap di Era Oversharing?

GEN Z ‘SANTRI’ MENYOAL Benarkah Mencari Barokah Harus Sepenuhnya Senyap di Era Oversharing?

Jika ikhfa’ al-amal (merahasiakan amal) adalah syarat mutlak untuk mendapatkan barokah (berkah) tertinggi, lalu bagaimana seorang anak muda muslim hari ini bisa memastikan amalnya diterima, sementara setiap aspek hidupnya (termasuk ibadah) ditarik gravitasi media sosial yang menuntut visibilitas total? Di mana batas antara pengabdian dan pamer?

Anak-anak muda muslim yang bersekolah ‘nyantri’ di pesantren (Gen Z Santri) menghadapi tantangan unik. Mereka dibesarkan dengan dua hal yang bertentangan, tradisi pesantren mengajarkan bahwa amal baik harus dirahasiakan (disebut ikhfa’ al-amal) agar mendapat berkah (barokah), tetapi di sisi lain, mereka adalah generasi yang terbiasa hidup di media sosial, tempat berbagi informasi pribadi secara berlebihan (oversharing) adalah hal lumrah.

Inti masalahnya adalah bagaimana mencari barokah (limpahan kebaikan dari Tuhan) ketika budaya digital mendorong mereka untuk memamerkan semua kegiatan mereka, termasuk ibadah. Tradisi agama mengajarkan bahwa menyembunyikan amal bertujuan menjaga ketulusan niat dan mencegah pamer (disebut riya’) atau sombong.

Namun, Gen Z merasa perlu memposting amal mereka karena tiga alasan, butuh pengakuan cepat, ingin membangun citra diri yang baik, dan takut ketinggalan tren (FOMO). Sayangnya, media sosial sering kali mengukur nilai kebaikan berdasarkan jumlah likes atau komentar, yang bisa menggeser fokus dari mencari ridha Tuhan menjadi mencari pujian orang.

Konflik utama Gen Z Santri adalah bagaimana memastikan niat tetap murni ketika mereka memublikasikan kegiatan keagamaan atau sosial? Fenomena pamer terselubung (seperti humble bragging tentang ibadah) kini menjadi tantangan etika baru (Riya’ Digital).

Menghadapi tantangan etika baru ini, pesantren dan Gen Z Santri perlu mengadaptasi aturan lama ikhfa’ al-amal. Adaptasi ini tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan membuat penyesuaian yang memungkinkan santri untuk tetap beramal secara publik tanpa mengorbankan ketulusan niat. Penyesuaian aturan ini meliputi beberapa prinsip utama:

  1. Membedakan Amal: Ibadah pribadi yang sangat rahasia (seperti salat malam) harus tetap disembunyikan. Sebaliknya, kegiatan yang membawa manfaat sosial besar (seperti proyek kemanusiaan atau promosi pesantren) boleh dipublikasikan untuk menginspirasi orang lain atau tujuan edukasi.
  2. Fokus pada Pesan, Bukan Pelaku: Saat memposting, fokusnya harus pada ajakan berbuat baik atau nilai edukatif, bukan pada siapa yang melakukan amal tersebut. Ini mengurangi risiko pamer diri.
  3. Puasa Digital (Digital Zuhud): Sesekali perlu ada jeda atau pembatasan ketat dalam berbagi agar fokus spiritual tidak hilang.

Untuk mempermudah implementasi prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari, kami mengusulkan kerangka kerja yang lebih spesifik. Kerangka kerja ini dikenal sebagai Tiga Aturan Berbagi Etis, yang berfokus pada manfaat postingan dan evaluasi diri sebelum memublikasikan kegiatan keagamaan atau amal:

  1. Aturan Manfaat Publik: Posting hanya jika postingan itu jelas-jelas bermanfaat bagi banyak orang (mengedukasi atau menginspirasi), bukan sekadar mencari pujian diri.
  2. Aturan Menghapus Diri: Kurangi penonjolan diri, fokuslah pada dampak kebaikan yang dihasilkan.
  3. Aturan Cek Niat: Sebelum memposting, tanyakan pada diri sendiri “Apakah tujuan saya mencari pujian manusia atau mencari ridha Tuhan?”

Pesantren harus memainkan peran penting dengan mengajarkan Literasi Digital Spiritual memberi pemahaman tentang etika pamer di media sosial.

Pada akhirnya, konsep barokah bagi Gen Z Santri tidak lagi menuntut kerahasiaan total, melainkan menuntut Kerahasiaan Niat. Barokah Digital bisa didapat jika postingan amal baik mereka memberikan dampak positif, menginspirasi orang lain, dan mereka tetap sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya penilai, bukan jumlah likes.

Gen Z Santri harus pandai memilih, publikasikan manfaat amal, tetapi rahasiakan niat. Mereka tidak harus benar-benar diam, tetapi harus Senyap di dalam Hati. Semoga Bermanfaat. Mator Sakalangkong.

*Kepala SMP Islam Ar-Raudhah Sumenep,

Mahasiswa Pascasarjana Institut Kariman Wirayudha Sumenep.

Adm AR Media

Khadimul Ma'had

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Assalamu'alaikum.. Tim dukungan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!