Di rimba belantara ilmu yang luas, saat peta dan kompas (buku dan guru) menjadi penunjuk jalan, sering luput perhatian pada esensi spiritual bernama barokah. Bukan sekadar keberuntungan atau kemudahan materi, barokah dalam konteks menuntut ilmu adalah kehadiran Ilahi yang meresap, nutrisi spiritual yang menghidupkan, dan akar yang menancapkan pohon ilmu agar tak tumbang di terpa badai cobaan duniawi. Ia adalah esensi yang membedakan antara sekadar memiliki informasi dan benar-benar meraih hikmah yang bermanfaat.
Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan gempita persaingan meraih gelar serta posisi, keyakinan akan barokah ini terasa semakin memudar di kalangan para penuntut ilmu, tak terkecuali di lingkungan santri yang sejatinya mewarisi tradisi spiritual para ulama salaf. Ilmu seringkali direduksi[1] menjadi tumpukan data di kepala, secarik ijazah di tangan, atau bekal untuk meraup materi semata. Fokus bergeser dari “bagaimana ilmu ini mendekatkan diri pada-Nya” menjadi “apa yang bisa saya dapat dari ilmu ini secara instan dan terukur?”. Obor barokah yang dulu benderang sebagai pemandu spiritual kini terancam redup, tertutup kabut pragmatisme[2] yang menyesatkan.
Padahal, meneguhkan kembali keyakinan bahwa barokah adalah kunci utama bukanlah kemunduran, melainkan justru navigasi paling bijak di samudra ilmu yang kian kompleks. Barokah bukanlah sulap, melainkan buah dari proses yang dilandasi fondasi spiritual kokoh. Proses itu dimulai dari:
Pertama dan yang terpenting, “Menghormati Pendidik, Guru, Kyai, Ustadz, dan Ustadzah” dengan sepenuh hati. Mereka adalah jembatan warisan kenabian, mata air tempat ilmu mengalir. Adab dan penghormatan yang mengakar kuat di batin adalah irigasi ruhani yang menghidupkan bibit ilmu di sanubari. Mengabaikan adab berarti meretakkan bejana penampung barokah. Ibarat menimba air dari sumur yang diberkahi namun dengan timba yang bocor, sebanyak apapun airnya, ia tak akan penuh. Kyai sepuh dengan kebijaksanaan mendalam, ustadz/ustadzah muda dengan semangat membara dalam menyampaikan ilmu, bahkan guru di sekolah umum sekalipun, setiap dari mereka membawa percikan barokah yang berbeda. Menyepelekan peran mereka ibarat memutus mata rantai berkah yang semestinya mengalir. Kepercayaan akan barokah mendorong kita untuk melihat guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pewaris risalah mulia yang patut dijunjung tinggi.
Kedua, “Kajian agama yang mendalam” dilakukan bukan hanya untuk memperkaya wawasan, tetapi untuk mendekatkan diri pada Kebenaran Hakiki. Barokah menyukai kedalaman, bukan hanya permukaan. Kajian yang mendalam berarti merenungi ayat demi ayat, hadits demi hadits, mencari hikmah di balik hukum, menghubungkan satu cabang ilmu dengan cabang lain, dan yang terpenting, berusaha mengamalkannya. Niat tulus Lillahi Ta’ala dalam setiap helaan nafas mencari ilmu, itulah magnet barokah yang paling kuat. Tanpa niat yang benar dan kedalaman perenungan, ilmu hanya akan menjadi beban, bahkan bisa menjadi sumber kesombongan dan perpecahan. Barokah memastikan ilmu yang kita raih tertancap di hati, bukan hanya di kepala, dan menjadi cahaya penerang jalan, bukan bara api yang membakar diri.
Maka, bagaimana menstimulasi kembali kepercayaan akan barokah di tengah generasi yang kian akrab dengan logika digital dan hasil instan? Dibutuhkan upaya sadar dan kolektif. Para pendidik, dari kyai di pondok pesantren hingga guru di madrasah dan sekolah umum, perlu lebih sering mengingatkan dan mencontohkan pentingnya niat, adab, dan keyakinan akan barokah. Kisah-kisah teladan ulama salaf yang meraih ketinggian ilmu dan keberkahan hidup berkat kesungguhan niat, adab kepada guru, dan amalan shalih perlu lebih sering diceritakan. Lingkungan belajar harus kembali menumbuhkan nilai-nilai spiritual, di mana proses meraih ridha Ilahi melalui ilmu lebih dihargai daripada sekadar tumpukan nilai akademis. Shalat Dhuha, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan amalan-amalan sunnah lainnya yang diyakini membawa barokah, perlu kembali disemarakkan bukan sebagai ritual kosong, melainkan sebagai upaya nyata menjemput keberkahan dalam menuntut ilmu.
Percaya barokah bukanlah menyerah pada nasib pasrah, melainkan keyakinan bahwa ada kekuatan Ilahi yang campur tangan dalam setiap kebaikan yang kita usahakan. Ia adalah pengingat bahwa kesuksesan sejati dalam menuntut ilmu bukanlah sekadar “apa yang kita tahu”, tetapi “bagaimana ilmu itu mengubah kita” dan “seberapa besar manfaatnya bagi orang lain, di dunia maupun di akhirat”. Meneguhkan kembali keyakinan pada barokah adalah meletakkan fondasi paling kokoh bagi ilmu, agar hasilnya tak hanya gemilang di dunia sesaat, namun juga meradiasi kebaikan hingga keabadian. Semoga Bermanfaat, Mator Sakalangkong.
[1] Direduksi berarti sesuatu yang dikurangi atau dibuat lebih kecil.
[2] Pragmatisme adalah suatu aliran filsafat yang menekankan pada nilai praktis dan kegunaan sesuatu, bukan hanya pada kebenaran teoritisnya.